Suka Duka Seorang Jurnalis Atau Wartawan.;Akan Dipertanggungjawabkan Di Akhirat Atas Kebenaran Informasinya

  • Whatsapp

Buserkepri.net – Palembang
Menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan mencari berita atau menulis laporan untuk memenuhi halaman media. Profesi wartawan sejatinya adalah amanah besar – sebuah tanggung jawab moral, sosial, bahkan spiritual. Karena di balik setiap kata yang tertulis, ada konsekuensi yang tidak hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah di akhirat kelak.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

Juga dalam Injil di terangkan :
Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya agar jangan takut untuk menyuarakan kebenaran secara gamblang dan lantang (Matius 10:26). Tidak hanya berdiam diri ketika melihat ketidakadilan. Namun berani berpihak kepada yang benar.
Ayat ini menjadi pengingat kuat bagi siapa pun yang berprofesi sebagai penyampai informasi, khususnya wartawan. Setiap berita yang ditulis, setiap kata yang dipublikasikan, akan ditanya: Apakah itu benar? Apakah itu menimbulkan kebaikan atau justru fitnah
Wartawan sejatinya adalah “penjaga kebenaran” dan “penyampai nurani masyarakat.” Namun di era digital yang serba cepat dan penuh informasi hoaks, godaan untuk menulis tanpa verifikasi, membuat judul bombastis, atau menyebarkan berita demi klik dan popularitas sangat besar.

Saat di mulainya pekerjaan dan perjalanan sebagai seorang jurnalis sering kali diwarnai oleh berbagai pengalaman yang penuh warna. Ini adalah sebuah kisah tentang suka, duka, perih, pedih, dan juga kebahagiaan yang tak terlupakan saat berada di lapangan.
“Awal mula menjadi jurnalis mungkin dimulai dengan rasa antusiasme yang tinggi. Ada kebanggaan tersendiri ketika tulisan pertama kali diterbitkan atau ketika laporan pertama kali disiarkan. Namun, seiring berjalannya waktu, realitas di lapangan mulai menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.
“Berada di tengah-tengah kejadian, terkadang dalam situasi yang berbahaya, menguji keberanian dan keteguhan hati seorang jurnalis. Meliput peristiwa bencana alam, konflik, atau tragedi kemanusiaan, sering kali memberikan perasaan perih dan pedih yang mendalam.
“Di sisi lain, ada momen-momen bahagia yang juga dirasakan. Saat sebuah berita investigasi berhasil mengungkap kebenaran atau ketika cerita yang diangkat memberikan dampak positif bagi masyarakat, itulah saat di mana kebahagiaan dan kepuasan batin tak terelakkan.
Ada rasa bangga ketika mampu memberikan suara kepada mereka yang tak terdengar, ketika cerita yang disampaikan mampu menggugah kesadaran publik.
“Perjalanan ini adalah tentang mengatasi segala rintangan dan tetap berdiri teguh meski terkadang ada banyak air mata yang jatuh. Suka, duka, perih, pedih, dan bahagia semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari profesi ini. Semua pengalaman ini menjadikan perjalanan seorang jurnalis bukan hanya sebuah pekerjaan, tetapi juga sebuah panggilan hidup yang berarti.”

( Irma. S/A.Hadi.Hd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *